Tampilkan postingan dengan label Kehamilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehamilan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Januari 2017

Kenapa Ibu Hamil Dianjurkan Melakukan Tes HIV ?






Penyakit HIV / AIDS meningkat setiap tahunnya semenjak pertama kali virus HIV ditemukan pada tahun 1987. Berdasarkan data Ditjen P2PL Kemenkes RI tanggal 20/11/2016 diketahui orang yang terinfeksi HIV berjumlah 219.036 orang, penderita AIDS berjumlah 82.968 orang. Sekitar 4% penderita HIV adalah bayi yang tertular dari ibunya semenjak dalam kandungan. Diperkirakan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia sebenarnya adalah sekitar 600.000 orang, karena masih banyak penderita HIV yang tidak memeriksakan diri ke tempat pelayanan kesehatan dikarenakan tidak sadar dirinya terinfeksi HIV, tabu dan takut memeriksakan diri serta kurang pengetahuan tentang HIV/AIDS.

Ibu rumah tangga sangat rentan tertular HIV dari suaminya. Jika ibu sudah tertular HIV, kemungkinan besar (> 90%) akan menularkan kepada anaknya pada saat hamil, melahirkan dan menyusui. Oleh karena itu pada tahun 2013 menteri kesehatan mengeluarkan Permenkes RI no 51 tahun 2013 tentang Pedoman Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), yang mewajibkan tenaga kesehatan menawarkan kepada semua ibu hamil untuk melakukan tes HIV, skrining IMS (Infeksi Menular Seksual) dan tes sifilis pada kunjungan awal pemeriksaan kehamilan beserta tes laboratorium lainnya.  

Manfaat tes HIV pada ibu hamil adalah dapat mendeteksi ibu hamil yang terinfeksi HIV/AIDS sedini mungkin sehingga jika ibu positif tertular HIV dapat mengikuti program pencegahan infeksi dari ibu ke bayi yang dikandungnya. Dengan mengikuti program pencegahan ini semenjak ibu hamil muda maka akan melahirkan anak yang bebas HIV/AIDS. Manfaat lainnya adalah jika ibu diketahui positif HIV maka suami juga harus dilakukan tes, sehingga bisa diputus mata rantai penyebaran HIV/AIDS melalui suami ke perempuan atau pasangan seks yang lain.

Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak akan efektif jika dilakukan pada saat hamil muda (penularan menurun sampai 1-2%). Pencegahan dilakukan dengan pemberian obat ARV kepada semua ibu hamil yang terdeteksi terinfeksi  HIV/AIDS.  

Sebelum membahas lebih lanjut tentang tes HIV bagi ibu hamil, saya akan membahas tentang HIV/AIDS secara umum terlebih dahulu.

Apa itu HIV / AIDS ?

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang spesifik menyerang sistem kekebalan tubuh/imunitas manusia dan menyebabkan AIDS.

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah penyakit lanjutan dari HIV, merupakan kumpulan tanda dan gejala penyakit akibat penurunan sistem daya tahan tubuh. AIDS sering diketahui dengan munculnya berbagai penyakit infeksi Oportunistik (macam-macam penyakit), keganasan, gangguan metabolisme dan lainnya. Infeksi HIV berjalan sangat progresif merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga penderita tidak dapat menahan serangan infeksi jamur, bakteri atau virus. Kebanyakan orang dengan HIV akan meninggal dalam beberapa tahun setelah tanda pertama AIDS muncul bila tidak ada pelayanan dan terapi yang diberikan.

Bagaimana cara penularan HIV/AIDS ?

HIV hidup di dalam darah dan cairan genital. Virus akan menyebar ketika cairan tubuh orang terinfeksi HIV masuk ke dalam tubuh orang lain. Artinya HIV dapat menular melalui :

  1. Cairan genital : cairan genital (cairan sperma, lendir vagina) memiliki jumlah virus yang tinggi dan cukup banyak untuk memungkinkan penularan. Oleh karenanya hubungan seksual yang berisiko/tidak aman dapat menularkan HIV. Semua jenis hubungan seksual misalnya kontak seksual genital, kontak  seksual oral dan anal dapat menularkan HIV.
  2. Darah : penularan melalui darah dapat terjadi melalui transfusi darah dan produknya (plasma, trombosis); perilaku menyuntik yang tidak aman pada pengguna napza suntik (penasun/IDU); pemakaian jarum suntik / alat tajam yang memungkinkan terjadinya luka secara bergantian tanpa disterilkan, misalnya jarum tato, jarum tindik,  peralatan pencet jerawat, peralatan medis, jarum akupuntur dll; transplantasi organ dan jaringan tubuh yang tercemar virus HIV.
  3. Dari ibu ke bayinya : hal ini terjadi selama dalam kandungan melalui placenta/ari-ari, melalui cairan genital saat persalinan dan menyusui (pemberian ASI).

HIV tidak bisa hidup di luar tubuh manusia untuk lebih dari beberapa menit. Dia tidak bisa hidup sendiri di udara atau di air. Artinya, Anda tidak dapat tertular atau menularkan HIV lewat :
  • Sentuhan, pelukan, atau ciuman
  • Berbagi makanan dan minuman.
  • Memakai baju, sprei, selimut, berbagi sabun mandi atau WC secara bergantian.
  • Berenang bersama
  • Gigitan nyamuk.
  • Tinggal serumah dengan Odha (orang dengan HIV/AIDS)
Bagaimana perjalanan infeksi HIV ?

Sesudah HIV memasuki tubuh seseorang, maka tubuh akan terinfeksi dan virus mulai mereplikasi diri dalam sel orang tersebut (terutama sel limfosit T CD4 dan makrofag). Virus HIV akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan menghasilkan antibodi untuk HIV. Masa antara masuknya infeksi dan terbentuknya antibodi yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium adalah selama 2-12 minggu dan disebut masa jendela (window period). Selama masa jendela, pasien sangat infeksius, mudah menularkan kepada orang lain, meski hasil pemeriksaan laboratoriumnya masih negatif. Hampir 30-50% orang mengalami masa infeksi akut pada masa infeksius ini, di mana gejala dan tanda yang biasanya timbul adalah: demam, pembesaran kelenjar getah bening, keringat malam, ruam kulit, sakit kepala dan batuk.

Pada tahap Infeksi kronik: penderita HIV tampak sehat, tidak menunjukkan gejala apa-apa seperti orang normal lainnya. Biasanya hal ini berlangsung selama 5 – 15 tahun. Walaupun terlihat normal tapi orang terinfeksi HIV tetap bisa menularkan virus HIV. Selama fase ini, sistem imun terganggu dan daya tahan tubuh berangsur-angsur menurun karena virus HIV memperbanyak dengan cepat disertai pengrusakan sel limposit T CD4 dan sel kekebalan tubuh lainnya, sampai akhirnya sel limposit T CD4 turun di bawah 350/ml  dan penderita masuk dalam fase AIDS.

Pada tahap AIDS, semua penyakit, virus, bakteri bahkan keganasan cepat sekali masuk ke dalam tubuh. Tanda dan gejala yang tampak sangat tergantung jenis infeksi (oportunistik) yang menyertainya. Biasanya yang sering terjadi adalah penurunan berat badan yang drastis, nafsu makan berkurang, diare yang tidak kunjung sembuh, demam lebih dari 1 bulan, batuk 2-3 minggu.

Bagaimana cara melakukan tes HIV/AIDS ?

Ibu akan mendapatkan tes HIV/AIDS di berbagai pusat kesehatan baik di rumah sakit, puskesmas atau bidan praktik mandiri yang sudah bekerjasama dengan laboratorium kesehatan. Tes dianjurkan dilakukan di awal kehamilan pada saat pemeriksaan kehamilan pertama kali.

Dilakukan konseling pra tes terlebih dahulu, tujuan konseling ini adalah  menyiapkan ibu untuk tes HIV/AIDS. Isi diskusi adalah klarifikasi pengetahuan ibu tentang HIV/AIDS, menyampaikan prosedur tes dan pengelolaan diri setelah menerima hasil tes, menyiapkan ibu menghadapi hari depan, mempersiapkan persetujuan dilakukan tes.

Tes HIV sendiri dapat dilakukan dengan cara tes sampel darah. Saat seseorang terinfeksi virus, maka tubuh akan memproduksi antibodi untuk melawan virus tersebut. Antibodi secara alami akan dihasilkan oleh sistem imun tubuh. Karena tes antibodi lebih mudah dideteksi daripada tes virusnya, maka dengan melakukan tes antibodi saja sudah dapat diketahui seseorang tersebut HIV positif atau tidak. Jika tidak ada antibodi yang dihasilkan, maka hasilnya adalah HIV negatif, begitu pula sebaliknya. 

Hasil tes bisa saja negatif jika ibu hamil yang di tes baru saja terinfeksi. Hal ini dapat terjadi karena tubuh membutuhkan waktu beberapa minggu untuk menghasilkan antibodi sejak terjadinya infeksi. Antibodi baru bisa dideteksi setelah 3 hingga 8 minggu setelah terinfeksi. Untuk ibu hamil yang memiliki faktor risiko terinfeksi HIV jika hasil pemeriksaan negatif, maka perlu dilakukan tes ulang kembali minimal 14 hari setelah tes pertama, dan  setidaknya tes ulang kembali saat menjelang persalinan (usia kehamilan 32-36 minggu).

Setelah hasil tes diketahui, dilakukan konseling post-tes yaitu konseling yang harus diberikan setelah hasil tes diketahui, baik hasilnya positif mau pun negatif. Konseling post-test sangat penting untuk membantu ibu hamil yang hasilnya HIV positif agar dapat mengetahui cara menghidari penularan pada orang lain, serta untuk bisa mengatasinya dan menjalin hidup secara positif. Bagi ibu hamil yang hasilnya HIV negatif, konseling post-test bermanfaat untuk memberitahui tentang cara-cara mencegah infeksi HIV di masa datang.

Ibu hamil yang hasil tesnya HIV positif, maka akan dilakukan konseling berpasangan dengan suami untuk mencari tau penyebab terinfeksi, dan ditawarkan untuk melakukan tes HIV bagi suami.

Hasil tes HIV, sangat rahasia. Hanya orang yang dites yang boleh mengambil dan mengetahui hasil tes pertama kali.

Memberanikan diri untuk melakukan tes HIV tidaklah mudah, tapi demi kesehatan buah hati Anda, tes ini sangat penting untuk dilakukan.



Cegah dan hindari penyakit HIV bukan orangnya”


Semoga Bermanfaat


Khalida


Rabu, 07 Desember 2016

Penanganan Plasenta Previa



Banyak ibu hamil khawatir ketika kehamilannya didiagnosa plasenta previa, karena ibu takut perdarahannya tidak berhenti dan berpikir persalinannya akan dilakukan dengan operasi caesar. Padahal tidak semua ibu dengan plasenta previa melahirkan dengan operasi caesar. Oleh karena itu, yuk kita kenalan dengan plasenta previa.

Apa itu plasenta previa ?

Plasenta Previa merupakan suatu kondisi dimana posisi Plasenta berada di bagian bawah uterus (rahim) atau di dekat serviks (mulut rahim), sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir bayi.

Normalnya, seiring dengan kondisi rahim yang semakin membesar, Plasenta akan melebar ke arah atas atau naik dengan sendirinya menjauhi serviks. Namun pada kondisi tertentu posisi plasenta tidak berubah, tetap menempel pada bagian bawah terus.

Apa penyebab terjadinya Plasenta Previa ?

Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko ibu hamil mengalami Plasenta Previa, seperti :

  1. Terlalu sering hamil (multigravida)
  2. Pernah mengalami plasenta previa pada kehamilan sebelumnya
  3. Hamil pada usia 35 tahun atau lebih
  4. Riwayat operasi caesar pada kehamilan sebelumnya
  5. Hamil kembar
  6. Memiliki kelainan pada rahim, seperti adanya mioma atau kista di rahim
  7. Sebelum hamil saat ini, ibu dilakukan kuretase
  8. Ibu yang merokok

 Gejala apa saja yang dialami oleh ibu ?

Pada usia kehamilan > 20 minggu ibu mengalami perdarahan sedikit atau banyak tanpa disertai nyeri. Warna darah merah terang.

Pendarahan dapat berhenti dengan sendirinya tanpa pengobatan, tetapi akan kembali muncul dalam beberapa hari atau beberapa minggu kemudian.

Perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini sedangkan pada plasenta letak rendah kemungkinan perdarahan terjadi saat kala 1 persalinan saat adanya pembukaan serviks.

Gejala lain yang timbul adalah janin tidak kunjung masuk ke pintu bawah panggul, posisi janin lintang atau sungsang, dan berat badan janin lebih kecil dari usia kehamilan karena adanya gangguan sirkulasi darah. Gejala-gejala ini sering timbul pada plasenta previa totalis.

Kenapa perdarahan ini dapat terjadi ?

Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan maka leher rahim akan melebar untuk membuka jalan bagi persalinan. Jika terjadi plasenta previa, maka maka pembuluh darah pada uterus bagian bawah yang melebar akan menipis dan pecah, sehingga menyebabkan pendarahan. Semakin rendah letak plasenta, maka semakin dini pendarahan terjadi.

Bagaimana cara mengetahui secara pasti bahwa ibu mengalami plasenta previa ?

Posisi plasenta mulai diketahui melalui pemeriksaan USG (ultrasonografi) pada usia kehamilan 18 – 21 minggu. Jika terjadi perdarahan, USG transvaginal tidak dianjurkan karena akan menyebabkan plasenta terlepas dan perdarahan semakin banyak.

Terdapat 4 kategori plasenta previa. Pengelompokan ini ditentukan berdasarkan posisi plasenta, yaitu:
  1. Plasenta Letak Rendah, yakni plasenta tertanam di bagian bawah uterus, dekat tepi lubang serviks (jalan lahir).
  2. Plasenta Previa marginalis, plasenta terletak tepat di tepi pintu lubang serviks.
  3. Plasenta Previa parsialis yaitu plasenta menutupi sebagian lubang serviks.
  4. Plasenta Previa totalis, yakni plasenta menutupi seluruh lubang serviks.



Apa yang akan terjadi jika ibu mengalami plasenta previa saat kehamilan ?

Risiko yang terjadi pada ibu adalah perdarahan hebat akibat rahim berkontraksi dan terjadi pembukaan pada serviks memicu pelepasan akar plasenta yang menempel pada jalan lahir.

Risiko pada janin adalah janin berisiko lahir prematur dan berat badan lahir rendah bahkan kematian janin.

Bagaimana penanganan ibu hamil dengan plasenta previa ?

Ibu hamil yang tidak atau hanya mengalami sedikit pendarahan biasanya tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit, tapi tetap harus tetap waspada. Ibu dianjurkan untuk istirahat di rumah, bed rest (istirahat baring) dan mengurangi aktifitas fisik terutama aktifitas berat seperti membawa barang berat dan olah raga untuk menghindari adanya kontraksi dan mengurangi tekanan pada plasenta. Berhubungan seks juga sebaiknya dihindari karena dapat memicu pendarahan. Ibu melakukan bed rest minimal tiga hari sampai kontraksi dan perdarahan benar-benar berhenti.

Ibu tidak diperbolehkan untuk memakan makanan pedas dan menggunakan produk pembersih kewanitaan atau obat-obatan lain yang dijual bebas karena dikhawatirkan akan menimbulkan kontraksi sehingga terjadi perdarahan.

Untuk ibu hamil yang mengalami pendarahan selama masa kehamilan disarankan untuk menjalani bed rest total di rumah sakit agar perdarahannya dapat ditangani. Kondisi ibu dan janin dipantau dengan baik. Tetapi jika pendarahannya tidak kunjung berhenti, dokter akan menganjurkan operasi caesar meski usia kandungan belum cukup, untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

Tidak semua ibu hamil yang mengalami plasenta previa akan menjalani persalinan dengan cara operasi caesar. Jika ibu diketahui mengalami plasenta previa pada awal kehamilan, maka plasenta masih dapat bergerak ke atas seiring dengan besarnya uterus, sehingga plasenta tidak lagi menutupi jalan lahir.

Ibu yang mengalami plasenta letak rendah dan plasenta previa marginalis juga kemungkinan besar dapat melahirkan normal. Tetapi ibu dengan plasenta previa parsialis atau totalis kemungkinan besar akan melahirkan dengan operasi caesar.

Jika ibu mengalami anemia selama kehamilan maka ibu sebaiknya mengkonsumsi vitamim penambah darah, dan memakan makanan yang banyak mengandung zat besi, asam folat dan vitamin B12.

Ibu sebaiknya sering menanamkan afirmasi / sugesti positif agar plasenta naik ke atas. Contoh kalimat afirmasi yang dapat ibu ucapkan adalah “mulai saat ini sampai masa persalinan, posisi plasenta semakin ke utara (maksudnya adalah agar plasenta naik ke atas)”. Afirmasi ini harus sering di ucapkan oleh ibu agar tubuh, pikiran dan jiwa ibu selaras sehingga Insya Allah posisi plasenta berubah dan tidak menghalangi jalan lahir.

Jadi ibu, jika Anda mengalami plasenta previa selama kehamilan teruslah berpikiran positif agar kondisi ibu dan janin sehat dan tetap waspada jika terjadi kontraksi dan perdarahan. Segera periksakan diri ke dokter jika terjadi perdarahan.

Semoga bermanfaat ☺

Khalida

Kamis, 01 Desember 2016

Komunikasi Dengan Janin


 
Berkomunikasi dengan janin selama kehamilan sangat bermanfaat bagi ibu dan janin, karena ikatan batin ibu dan janin menjadi lebih erat. Ikatan batin yang erat antara ibu dan janin dapat mempunyai peran penting dalam proses kehamilan dan persalinan. Kehamilan menjadi lebih sehat dan persalinan pun dapat dilalui dengan lancar. Selain itu, komunikasi ibu dan janin dapat merangsang kecerdasan dan mempengaruhi pembentukan karakter serta kepribadian anak ketika ia besar nanti.

Jadi pada masa ini adalah waktu yang tepat bagi ibu untuk mulai mendidik anaknya agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik karena berdasarkan beberapa penelitian menyatakan bahwa rahim ibu adalah ibarat kelas pendidikan yang sangat canggih.

Ibu hamil yang sungguh-sungguh berusaha mengenali janinnya, dan bersungguh-sungguh melakukan kontak batin dengan kelembutan dan penuh cinta, bisa merasakan “panggilannya” bersambut. Pada dasarnya tidak ada ibu hamil yang tidak bisa berkomunikasi dengan janin karena alam telah menyiapkannya.

Kapan waktu yang tepat memulai komunikasi dengan bayi ?

Komunikasi ibu dengan bayi dapat dimulai pada awal trimester 2 kehamilan, karena janin sudah mulai peka terhadap rangsangan, suara (termasuk suara hati ibunya), sentuhan, gerakan dan cahaya. Janin juga sudah mulai membentuk kapasitas belajar dan menghafal. Janin menangkap semua emosi yang hadir dari ibu dan ayahnya dan merekam segala rasa, gerakan, kata, bahkan pikiran di sekelilingnya sejak awal kehamilan.

Adapula penelitian yang menyatakan bahwa komunikasi bayi dapat dimulai sejak awal kehamilan yaitu pada masa konsepsi sekitar minggu ke-5 karena janin sudah mempunyai kemampuan dalam psikologi dan biologi sehingga janin sudah mampu menerima rangsangan luar.

Tidak ada pedoman berapa kali dalam sehari ibu idealnya berbicara dengan janin. Sesering mungkin ibu, suami dan keluarga berbicara dengan janin akan semakin baik. Ikatan emosi menjadi lebih kuat lagi dan janin belajar semakin banyak.

Suara ibu menyebabkan adanya lesatan pada sel syaraf janin sehingga dapat mempercepat denyut jantung janin, pada saat ini adalah waktu yang tepat untuk ibu hamil melakukan rangsangan atau stimulasi karena janin akan merekam semua kata-kata yang didengarnya. Suara ayah, kakak atau keluarga dekat lainnya juga dapat mempercepat denyut jantung janin, tetapi ketika janin mendengar suara orang lain, ritme jantungnya akan melambat.

Apa Manfaatnya Berkomunikasi dengan Janin ?

Selama Hamil

  • Berkomunikasi secara intens dengan janin menguatkan ikatan batin antara ibu dan janin.
  • Berkomunikasi yang intens membuat ibu hamil tanggap terhadap semua pesan yang disampaikan oleh janin. Biasanya janin selalu mengirimkan pesan pada ibunya yang berhubungan dengan kesehatan kehamilan, baik fisik maupun mental. Misalnya  janin akan sering bergerak ketika janin menginginkan sang ibu untuk beristirahat untuk kesehatan bersama (mungkin karena keasyikan bekerja ibu lupa beristirahat). Kepekaan ibu hamil terhadap sinyal yang disampaikan janin inilah yang justru membantunya menjaga kehamilannya agar berlangsung sehat, tenang dan damai sampai saatnya melahirkan.
  • Mengajarkan pada orang tua tentang pentingnya memberikan lingkungan yang aman, penuh cinta kasih dan menarik bagi janin dalam kandungan untuk kepentingan masa depan janin dan untuk kepentingan orang tua itu sendiri tentunya.

Menjelang Persalinan

  • Menjelang proses persalinan, jalinan yang kuat antara ibu dan janin akan menunjukan kemampuan dan kehebatnnya. Dengan peka ibu akan mengetahui kapan janinnya ingin dilahirkan sehingga ibu dapat bersiap-siap.
  • Secara batin, ibu dan janin dapat berkolaborasi. Kepercayaan diri ibu menjadi sangat tinggi karena ibu yakin mampu melewati saat bersejarah bersama buah hatinya. Bahkan ibu dapat merasa yakin dapat melahirkan normal karena janinnya mendukung ibu untuk melahirkan normal.
  • Terjalin hubungan yang manis antara ibu dan janin, tidak saja membuat ibu hamil tenang dan damai selama menjalani proses kehamilan dan persalinan, ibu juga akan merasakan mudahnya menjalani masa-masa menyusui dan mengasuh anaknya sesuai masa pertumbuhannya.

Manfaat bagi Janin

  • Meningkatkan kemampuan penglihatan, pendengaran, pengenalan bahasa, motorik, kemampuan untuk tidur lebih baik, kapasitas belajar, ketenangan, bahkan kepercayaan diri saat anak besar nanti.
  • Bayi menjadi lebih aktif setelah persalinan dan  bayi lebih pintar menyusu pada ibunya.
  • Anak menjadi lebih cerdas karena perkembangan syarafnya lebih baik karena setiap kali otak janin dalam kandungan dirangsang akan terbentuk hubungan syaraf yang baru.
  • Kemampuan berbicara dan kosa kata serta mendengar anak akan lebih baik karena janin sudah merekam semua perkataan ibunya, cerita yang dibacakan untuknya, doa-doa yang dibacakan bahkan lagu yang didengarnya semenjak janin.
  • Berkomunikasi dengan janin dalam rahim dapat menstimulasi perkembangan otaknya. Penelitian menyatakan bahwa setelah empat bulan kehamilan, persentase tertinggi dari kematian bayi karena otak bayi yang tidak distimulasi setiap hari.

Bagaimana Cara Berkomunikasi dengan Janin ?

  • Sapa janin ibu setiap bangun tidur seperti layaknya anak-anak yang sudah lahir. Sapalah janin ibu dengan nama atau panggilan sayang yang sudah ibu persiapkan untuknya. Misalnya: "Selamat pagi sayang? Ibu sayang kamu. Bagaimana tidurmu semalam? Kalau nyaman boleh tendang perut ibu ya sayang...", dan sebagainya.
  • Terus lakukan kontak batin dengan janin setiap saat dan bersamaan dengan aktivitas sehari-hari. Dengan mejabarkan aktivitas yang ibu lakukan pada janin, janin menjadi lebih bahagia dan ia bisa belajar lebih banyak tentang lingkungan di sekitarnya yang belum dapat ia lihat.
  • Ketika janin sedang menendang perut Anda, sebaiknya berikan respon sambil menyentuh atau mengelus perut Anda dan katakan, "Ya Sayang...ibu di sini...".
  • Komunikasi dengan janin tidak hanya melalui suara, tapi juga dari sentuhan dan gerakan ibu. Untuk itu, sering-seringlah mengusap perut ibu dengan lembut serta ucapkan dengan sepenuh hati kata-kata positif yang ingin ibu sampaikan. Lakukan seakan-akan ibu bisa memeluknya walau ia masih berada dalam rahim ibu.
  • Katakan apa yang ibu rasakan setiap hari
  • Sesekali minta pendapatnya tentang suatu hal dan gunakan respon dari gerakan janin. Misalnya ketika ibu akan membacakan cerita pada janin tanyakan apakah janin ingin dibacakan cerita A atau B. Minta janin menendang perut ibu satu kali jika ingin dibacakan cerita A, jika janin ingin dibacakan cerita B minta janin menendang perut ibu dua kali.
  • Minta janin untuk menyampaikan keinginannya (misalnya : jika janin merasa tidak nyaman dan ingin beristirahat)
  • Bacakan buku cerita dengan intonasi yang berbeda-beda
  • Ajak janin bermain dan bercanda melalui sentuhan dan ketukan jari yang berpindah pindah. Usap lembut dan ayunkan perut.
  • Perdengarkan musik-musik yang indah dan menyenangkan hati, kemudian gerakkan tubuh Anda secara alami bersamanya, atau perdengarkan murotal 1 juz setiap harinya.
  • Janin senang dengan kelembutan suara alam. Oleh karena itu sering-seringlah perdengarkan suara alam seperti suara gemericik air, suara burung.
  • Ajak suami, anak tertua atau kerabat untuk bermain bersama janin. Hal ini penting untuk dilakukan agar janin mengetahui bahwa ia tidak hanya memiliki seorang ibu tapi juga memiliki ayah, kakak dan keluarga yang lain.
  • Melakukan visualisasi atau self hipnosis berbicara dengan janin. Dengan cara ini ibu dapat merasakan dan melihat janinnya, sehingga ibu seolah-olah berbicara langsung dengan janin di hadapannya.  Jika ibu berlatih hypnobirthing, maka berkomunikasi dengan janin melalui visualisasi dan self hypnosis akan diajarkan pada ibu.
 Hal-hal yang Harus Diperhatikan oleh Orang Tua Saat Berkomunikasi dengan Janin
  • Jaga kestabilan emosi ibu. Janin juga dapat merasakan segala bentuk emosi, baik emosi positif maupun negatif yang dirasakan oleh ibunya.
  • Ibu hamil harus belajar relaksasi agar terhindar dari stres karena stres sangat berpengaruh buruk terhadap perkembangan dan pertumbuhan janinnya  serta berpengaruh buruk dalam pengembangan kepribadiaan dan perilakunya di kemudian hari.
  • Selain ibu, ayah juga harus menjaga kestabilan emosi, jiwa dan perkataan. Semua itu akan direkam langsung oleh memori janin tanpa filter dan tersimpan di alam bawah sadar. Ayah yang marah-marah dengan kata-kata keras kepada ibu hamil akan menyebabkan keturunan yang berkepribadian depresif, gagap, gugupan, dan tidak percaya diri. Apalagi bila ada kontak fisik pada waktu itu, janin juga akan merasakan sakit yang ibu alami. Ibu yang gemar berguncing, ngerumpi, menonton tontonan yang buruk, tentunya sama dengan menciptakan keturunan seperti yang kita perguncingkan itu, atau bahkan bisa lebih buruk lagi
  • Hindari menggunakan kata-kata negatif. Kata-kata yang bersifat negatif seperti "jangan" atau "tidak", sebaiknya tidak digunakan dalam berkomunikasi dengan janin, sebab janin belum memiliki pikiran sadar, ia belum mampu memahami kalimat yang disampaikan oleh orang tuanya secara utuh. Saat Anda mengatakan "Nak, nanti kamu jangan jadi anak nakal ya", maka yang ditangkap oleh janin besar kemungkinan hanya kata "nakal". Akibatnya, setelah lahir dan tumbuh besar, ia bisa tumbuh dengan perasaan negatif tentang dirinya. Oleh karena itu, hati-hatilah dalam berkomunikasi dan gunakanlan kata-kata yang mengandung hal-hal positif, misalnya, "Nak, nanti setelah besar kamu akan menjadi anak yang baik,penurut dan sayang orang tua".
  • Ibu harus peka terhadap gerakan-gerakan yang dilakukan janin. Misalnya jika janin menendang-nendang keras perut ibu saat suasana gaduh di rumah, hal ini menunjukkan bahwa janin berupaya menyampaikan bahwa ia tidak merasa nyaman dengan suara gaduh yang didengarnya. Jadi ibu sebaiknya menghindar dari tempat tersebut.
  • Memakan makanan yang baik, bukan kuantitas tetapi kualitas yang terpenting. Biar sedikit akan tetapi kandungan nutrisinya baik. Serta hindari semua zat berbahaya seperti rokok, alkohol, napza, obat-obatan, zat kimia yang menyengat, dan sebagainya.

Mulai dari sekarang berkomunikasilah lebih sering dengan janin Anda ya bu. Ajak serta suami dan keluarga. Ciptakan emosi dan suasana yang bahagia selama kehamilan agar bayi sehat lahir dan batin dan proses persalinan berjalan lancar, lembut dan nyaman.


Semoga Bermanfaat ☺


Khalida